Lima jam di Wonosobo Part I : Dieng Plateau Theater

DPTfront

Permasalahan yang sering menghambat saya sebagai newbie traveler yang belum setahun bergabung di kantor baru, plus masih kuliah di kelas weekend dan gak lulus-lulus adalah : belum dapat cuti, dan tentu saja dana yang terbatas karena sebagian pendapatan harus disisihkan buat bayar kuliah. Malah curhat.

Lalu bagaimana solusinya biar bisa tetep jalan-jalan? Kalau pas liburan semester ya bisalah memanfaatkan jatah libur kantor sabtu-minggu. Kalo pas belum libur? Ya bolos sekali-dua kali-tiga kali gapapa lah.. hehehe! Selain itu, kita juga bisa curi-curi waktu buat mengunjungi objek wisata daerah setempat ketika sedang ada acara tertentu, contohnya seperti saya yang beberapa minggu lalu pergi ke Wonosobo untuk menghadiri pernikahan sepupu. Bonusnya? Jalan-jalan ke Dieng! Yey!

Awalnya nggak ada rencana mau jalan-jalan ke Dieng, karena tujuan utama ke Wonosobo adalah kondangan. Oleh karenanya, saya yang berangkat dari Semarang hari Sabtu subuh-subuh, memang hanya pakai baju batik dress tanpa bawa baju ganti lainnya, apalagi kami memang berencana langsung pulang setelah acara ijab-sah selesai (bisa jadi tips juga untuk selalu bawa baju ganti kalo pas kondangan ke luar kota). Semarang-Wonosobo ditempuh dalam waktu 3-4 jam, tergantung tingkat kemacetan. Berangkat jam 5 pagi, saya akhirnya sampai di Wonosobo jam 8.30. Sesampainya di sana, saya langsung menemui anggota keluarga lain yang malam sebelumnya menginap di hotel. Acara berlangsung sampai jam 12.

Siang hari ternyata sudah terasa panas di Wonosobo, padahal dulu kayaknya kota ini terkenal dingin banget. Pas acara sudah selesai dan kami mau pamitan pulang, eh, lha kok budhe tau-tau bilang β€œLho, kok pulang? Padahal abis ini pada mau jalan ke Dieng, gak pengen ikutan?”

Waini. Bagai disambar becak di siang bolong. Ada perang di dalam batin, antara keharusan untuk langsung pulang karena sore ada kuliah, sama keinginan buat jalan-jalan, bareng rombongan keluarga yang entah kapan bisa kumpul bareng lagi.. sungguh pilihan yang berat. πŸ˜›

Salah satu keuntungan punya kakak perempuan yang ukuran badannya hampir sama adalah : bisa pinjem baju. Untungnya waktu itu kakak bawa baju ganti lebih. Jadi daripada saya harus jalan-jalan pake dress batik, mending saya pinjem deh tuh baju kakak, meskipun Cuma kaos lengan pendek dan celana pendek (baca : salah kostum. Dingin broh!)

073Pose kedinginan

Berangkat dari Wonosobo daerah kota menuju kawasan Dieng membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam naik mobil. Buat yang gampang mabuk siap-siap ya, jalan menuju lokasi berkelok-kelok khas jalanan pegunungan. Buat yang nyetirnya belum jago, juga harus siap2, karena jalannya sempit dan menanjak tajam.

Saya sendiri sebelumnya sudah pernah ke Dieng. Tapi pas SD πŸ˜€ . Yang saya ingat waktu itu adalah kentang. Iya kentang. Waktu itu saya melongo melihat hasil panen kentang Dieng yang ukurannya buwesar buwanget. Beda kayak kentang-kentang kebanyakan. Mungkin dia salah pergaulan. Halah.

Mulai masuk daerah menanjak, seketika mata kami langsung dimanjakan sama pemandangan hijau-hijau yang menyejukkan, bikin adem di hati dan kepala. Otot-otot seakan ikut mengendur. Simpul-simpul syaraf seakan mengurai. Damai.

065

Kami mematikan AC mobil, dan kemudian membuka kaca jendela. Mak nyess. Udara bercampur angin dingin langsung menyapa. Membekukan setiap senti kulit kami. Oh betapa kami rindu hawa seperti ini. Dalam sekejap rasanya nggak pengen balik ke Semarang yang panas..hehe!

Sawah, ladang-ladang sayur, petak-petak tanah, bunga-bunga cantik dan awan yang berarak menemani perjalanan kami. Dan akhirnya, sampailah kami di tempat yang pertama : Dieng Plateau Theater.

DPT2

Begitu turun dari mobil, kami langsung disambut sama mas-mas petugas yang kelihatan terburu-buru; β€œayok cepetan beli tiket trus masuk teater, filmnya udah mau mulai. Mending langsung masuk sekarang aja daripada harus nunggu 30 menit lagi”

DPT

Teater mini ini memutar film berdurasi sekitar 30 menit. Isinya tentang sejarah, budaya, serta kehidupan penduduk Dieng. Ada cerita tentang pemanfaatan belerang, cerita tentang kebiasaan rutin para penduduk, tari2an, serta fenomena anak gimbal Dieng yang terkenal itu. Lumayan menambah pengetahuan.

DPTcollagebeberapa adegan film

Selesai nonton film, aktivitas selanjutnya adalah foto-foto, melihat pemandangan di sekeliling, dan tentu saja.. makan!

Udara dingin memang bikin kita pengen ngemil terus. Seakan paham sama kondisi ini, Β para penjaja makanan pun berlomba-lomba menggelar lapak di tenda-tenda. Jual apa? Gorengan yang langsung digoreng di tempat, mie cup dan berbagai minuman hangat. Jualan di sini kayaknya pasti laris, apalagi kalo pengunjungnya rakus-rakus kayak kami hahaha!

066Tempe kemul dan kawan-kawan

DPT4siapa yang nggak tergoda coba?

DPT3Demi main bareng keluarga πŸ™‚

bersambung

Advertisements

12 comments

  1. wah tulisannya panjang dan keren sampe ada part2nya. mbak, mbandah harus datang lagi nih pas gak musim hujan biar dapat the best view of dieng. pasti ceritanya bakal lebih seru πŸ˜€

    salam kenal

  2. Wah saya kemarin ke Magelang, kelewatan tempat ini .. moga2 next time bisa berkunjung. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s